26 Jam Sendirian dalam Solo Traveling Part 1
26 Hours alone…..
BUT YOU CAN BUY AIRPLANE TICKET AND GO SOMEWHERE THAT MAKES YOU HAPPPY
CKCK not that simple dude. I think, those quote not suitable for me.
Kalau kamu lagi sesedih apapun itu, meski kamu pergi ke tempat semagis khasmir ataupun se iconic London, mungkin semua hanya berwarna abu-abu. Seenggaknya itu yang pernah rasakan. Semoga, kalian gak pernah merasakan hal yang sama. Karena akan “membuang-buang” uang dan tenaga.
How come? Kan gak ada traveling yang gak bikin happy?
No no…… saya pernah melewati traveling yang sifanya untuk “pelarian” karena kalau diem saya jauh lebih depresi.
Long story short.
Di bulan April, Saya mengunjungi beberapa tempat dengan tajuk Solo Traveling. Mungkin agak sedikit absurd, karena sebelumnya kalau traveling pasti rame-rame entah ikut piknik sekolah ataupun bareng sama temen tandeman traveling. Karena untuk pertama kalinya, jadi saya memilih tempat yang sudah pernah saya kunjungi, sifatnya lebih untuk menghabiskan waktu aja karena diam itu menyiksa.
First STOP! Bali. Siapa yang belum pernah mengunjungi tempat ini? Mungkin bagi sebagian orang-orang yang berkecukupan bisa mengunjungi Bali bisa sebulan sekali, tapi bagi saya ini untuk ke-empat kalinya. Jadi ini adalah pilihan yang paling “aman”. Tapi kali ini, cuma dalam waktu 27 jam mampir ke tempat ini. Urusan tidur, milih share room pake bunkbed, kali ini aku pilih Mirah Hostel cuma kisaran Rp 65.000 per malam dalam satu ruangan banyak banget bunk bed-nya kisaran 14 dengan 3 shower room & 3 closet. Parahnya saat ini cuma saya sendirian di ruangan itu, agak insecure untuk saya yang penakut. Pilihan pertama setelah sampe di sana, entah kenapa Nasi Campur & Starbuck Reserve di Sunset Road. – Nasi Campur Bu Andika yang kulit itu HQQ sekali diluar nalar dan akal manusia pada umumnya. Starbucks Reserve karena penasaran dengan Starbuck reserve terbesar di Asia Tenggara ini. Soal transport saya percayakan sama Ojek Online – kali ini saya pilih Gojek karena kemana-mana yang gak jauh2 banget cuma Rp 1000.
Next day, pengen ke pantai…., yha mana mungkin ke Bali tapi gak mlipir bentar ke pantainya. Gak mau, pantai yang aneh2 makanya pilih KUTA Beach. WHY KUTA? Kan pantainya gak bersih dan lain sebagainya. Lebih gak mau ribet aja sih, dan pengen yang deket2 aja. Pas hari itu emang butuh banget pantai, untuk menetralkan pikiran yang mixed. Duh, jangan sampai kalian merasakan rasa yang tidak mengenakan itu. Gak enak gimana? Ya, di depan pantai liat ombak dengan latar belakang suara khas tradisi bali, tapi pengen nangis haru, sedih, bahagia, tapi perih. Eh, gimana? Yha, mungkin yang baca aja bingung, apalagi yang nulis. Hahahhaha
Ini kenapa, saya jelaskan di awal kalau money can’t buy your happiness. Saya memilih Bali sebagai tempat bersedih untuk pertamakalinya, sebelumnya kesini selalu dalam keadaan bahagia. Karena masih punya waktu seharian, saya memilih jalan kaki dari Kuta ke Hostel, di maps tulisannya sih cuma 3km, tapi di bawah terik Bali, itu serasa 10km, dan menyebabkan belang hingga kini (gak bakal mengulangi jalan kaki walau cuma sekilo). Tempat yang gak akan telewat kalo ke bali selain nasi campur itu adalah Nook, entah kenapa suka sama tempat ini. Meskipun ya, sawah banyak di kampung halaman tapi ini nuansanya beda gitu. Banyak bule, bercengkrama dengan lapangnya, banyak yang datang serta merta cuma karena suka dengan healthy food yang “masih diterima oleh pecinta junk food” seperti saya. Masih punya 7 jam di Bali, maka saya memutuskan untuk ke Tanah Lot, setelah mampir ke Gusto karena saking panasnya dan udah bawa gembolan tas backpack dan waistbag. Yaaa, selama 5 hari solo traveling cuma bawa 1 tas backpack 15liter dan tas kicik buat barang2 berharga.
Perjalanan ke Tanah Lot bukanlah perjalanan yang sederhana, karena emang naik ojek online dan itu jaraknya termasuk jauh pake banget. Kurang lebih 30MENIT perjalanan, dan takutnya emang gak ada gojek yang mau nrima, tapi Alhamdulillah ada. Kenapa Tanah Lot? Tempat ini menurut saya sangat magis, selain itu sunsetnya warbyasah (walau cabs sebelum sunset yang bagus banget itu, sih). Yang drama itu balik dari Tanah lot menuju Kuta, karena ojek local vs ojek online masih berasa disini. Beberapa kali di cancel karena mereka takut dengan baku hantam antar ojek ini, kalaupun ada yang mau nrima harus jalan ke suatu tempat yang saya gak paham itu dimana. Akhirnya ditawarin ojek lokal tapi harganya agak halu. Kalau di aplikasi gojek kisaran Rp 39.000 sedangkan bapaknya nawarin Rp 60.000. Saya tawar aja 40 ribu, daripada gak balik tepat waktu dan ketinggalan pesawat han halu. Alhamdulillah bapaknya mau, tapi dengan catatan kalau ditanya di pangkalan jawabnya tetap Rp 60.000. Bapaknya ramah, baik banget, dan banyak ngobrol walaupun kadang agak gak nyambung, sayangnya lupa Tanya nama beliau. Saya ngaku kalau masih kuliah, lalu bapaknya mendoakan semoga kalau udah selesai semoga bisa kerja di Bali. Aku arahin bli-nya ke Krisna buat beli baju tidur, karena baju kalau diitung2 gak muat buat 5 hari.
Nyampe bandara, ternyata bisa diakses dengan motor walaupun agak jauh jalannya. Padahal jam tangan udah menunjukan 17ribu langkah hari itu. Tapi, harus dijabanin demi nyampe ke destinasi kota selanjutnya. Melangkah gontai ke International Departure (wait what? International means ….), lanjut menyapa mas-mas checkin pesawat Jet Star (oke sampai sini harusnya udah ketebak saya mau kemana). …. ????
Sekelumit kisah ini juga saya abadikan lewat video, loh. Please KLIK DISINI kalau penasaran.
Next Stop
Komentar
Posting Komentar