Hello, Social Media!




Pernah dengar Twitter, Facebook, Pinterest, Path, Instagram dan semacamnya? Orang-orang yang melek teknologi tentunya hapal betul nama-nama itu. Sebagian mayarakat kita juga tidak mau ketinggalan untuk mengenal mereka lebih jauh. Merekalah pemegang kuasa dari dunia New Media atau media baru. Di dunia itulah benar-benar tidak ada batasan antar manusia di berbagai belahan dunia, tentunya dengan kebijakan yang di terapkan pada masing-masing media sosial tersebut. Teknologi yang berkembang dengan pesat juga menuntut kita untuk semakin dekat dengan media sosial. Segala sisi kehidupan dan gejolaknya yang sebelumnya hanya kita dapati di kehidupan nyata sekarang sudah merambah ke kehidupan dunia maya. Tidak hanya digunakan untuk komunikasi antar individu saja, namun media sosial juga digunakan alat oleh sekelompok orang atau bahkan perusahaan untuk memasarkan produk dan mengenal lebih jauh konsumen mereka lewat media sosial.  Iklanpun mulai muncul dan berdatangan di media sosial tersebut untuk menarik simpati konsumen mengingat media ini sangat digemari oleh masyarakat. Media sosial bagaikan dua mata pisau, sangat menguntungkan bisa bisa dikendalikan dengan baik namun juga bisa menjadi ancaman yang tidak terduga.
Biacara soal media sosial tentu saja kita tidak bisa lepas dari berbagai aspek kehidupan. Mengingat media sosial adalah salah satu bentuk dari media baru yang masih mungkin terciptanya sebuah perkemabangan ke depannya. Media sosial senantiasa digunakan sebagai alat komunikasi yang lebih murah. Hanya dengan mengaktifkan data internet, kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang Dibandingkan dengan biaya sms dan telepon ke sesama operator atau antar operator di Indonesia yang bervariasi dan berubah-ubah membuat masyarakat sebisa mungkin menghindari penggunaannya. Apalagi media sosial kini sudah mulai mengembangkan fitur free call. Masing-masing  media sosial tersebut memberikan fasilitas terbaiknya untuk kepuasan penggunanya. Di dalam media sosial kita memerankan peran penting dalam pengembangan informasi yang aktual. Kadang tanpa kita sadari kita dapat meunculkan konten yang akan menjadi perhatian pengguna sebuah media sosial seperti menciptakan sebuah hastag tertentu ataupun melaporkan liputan terkini tentang sebuah acara melalui media sosial. Jika dulu kita harus menunggu satu hari berikutnya untuk melihat potret sebuah kejadian, sekarang dalam hitungan detik kita bisa melihat suatu hal di belahan dunia lain.
Selain sisi positif diatas pastinya ada sisi negatif yang ditemukan ketika kita menggunakan media sosial. Kadang negative itu bisa berasal dari luar ataupun dari dalam diri kita. Munculnya rasa ketergantungan akan pengakuan diri di media sosial merupakan salah satu efek negative dari penggunaan media sosial yang negative. Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi, hakekat dasar manusia perlu adanya pengakuan dari orang lain. Hal ini bisa kita dapatkan di media sosial. Dengan memposting sebuah pernyataan, check in lokasi, upload beberapa foto di media sosial kita bisa mendapatkan pengakuan dari orang lain berupa tanda cinta, like, atau berbagai macam komentar dari pengikut kita ataupun orang yang  berteman dengan kita di media sosial tersebut. Kecanduan akan pengakuan inilah yang membuat kita negative, dimana kita akan terus memberikan aktifitas kita dengan detail dengan harapan orang lain dapat menyukai aktifitas kita padahal orang yang berteman kita di sosial media tidak semua dapat menyukai kegiatan kita tersebut sehingga dapat memunculkan prasangka negative dari lingkungan kita. Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang seperti ini namun kita harus melihat dari sisi yang berbeda. Bisa saja orang yang kecanduan sosial media tidak diterima dengan baik di lingkungan sosial yang sebenarnya, sehingga mereka cenderung melampiaskan segalanya di sosial media.
Seperti yang di sebutkan sebelumnya bahwa media sosial seperti dua mata pisau apabila kita dapat membuat bagian-bagiannya sesuai fungsi dan manfaatnya tentunya akan sangat berguna dan sangat menguntungkan. Tapi apabila kita salah dalam penggunaanya justru akan menimbulkan konflik yang besar. Penyebaran nilai berita di sosial media sangat cepat baik negative ataupun negative, apalagi jika ada pihak yang berkepentingan yang berkerja di balik media sosial tersebut. Banyak contoh penyampaian aspirasi, kreativitas, dan keluh kesah berujung bencana bagi sebagian orang bahkan perusahaan. Masih hangat di telinga kita kasus Florence Sihombing yang berhadapan dengan hukum akibat menyalurkan aspirasi berupa hinaan kepada masyarakat Jogja. Itu adalah salah satu dari berbagai permasalahan yang muncul akibat kurangnya control diri di media sosial. Namun Undang-undang yang mengatur tentang media sosial dan kehidupannya belum terlalu kuat mengatur pekembangan yang begitu pesat, sehingga kadang justru merugikan pihak tertentu. Media sosial di Indonesia tidak sepenuhnya bebas, tetap ada aturan yang harus kita patuhi dalam penggunaannya. Seharusnya kita menggunakan media sosial ini dengan bijak sehingga tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.
Selamat Hari Social Media!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balada Lipsync

(Hampir) Gagal Terbang Karena Salah Nama,Pesan Lewat Traveloka

100ml Pertama